Langsung ke konten utama

Hati-Hati! Kamar Mandi Adalah Rumah Iblis

Hati-Hati! Kamar Mandi Sesungguhnya Adalah Rumah Iblis
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bercerita bahwa Iblis meminta
tempat tinggal kepada Allah seperti halnya Allah memberikan tempat
tinggal anak adam berada di bumi.

"Ya Allah, Adam dan keturunannya Engkau beri tempat tinggal di
bumi, maka berilah pula aku tempat tinggal!" Kata Iblis, Allah berfirman, "Tempat tinggalmu adalah WC (kamar mandi atau jamban) (HR. Bukhari). Dari situlah kemudian Iblis pun menggoda setiap orang yang memasuki rumahnya yang berupa kamar mandi, jamban atau WC. Godaan iblis macam-macam dan aneka warna, contohnya menggoda manusia supaya

1. Berlama-lama di dalam kamar mandi
2. Bernyanyi atau berkata-kata.
3. Bermain-main air atau sesuatu yang lain (bawa ipod mendengarkan musik)
4. Membisiki seseorang supaya kencing sambil berdiri
5. Membiarkan baju yang kotor tergantung dalam kamar mandi.
6. Melupakan seseorang untuk berdoa ketika akan masuk atau keluar dari kamar mandi.
7. Melakukan hal asusila
8. Melakukan Wudlu sambil telanjang.
9. Mencorat-oret dinding kamar mandi.
10. Merencanakan kejahatan.

Maka, hati-hatilah sewaktu dalam wc atau kamar mandi. Dan tips
yang baik adalah, lakukan mandi, buang air dll sewajarnya saja, lebih cepat lebih baik.

 
 
 
 

Postingan populer dari blog ini

Haji Mabrur

  Tiada imbalan bagi orang yang berhaji dengan mabrur selain surga, begitulah hadits Nabi Muhammad SAW yang sangat populer. Mabrur itu artinya baik. Kebalikan dari haji mabrur ialah haji mardud. Mardud artinya tertolak. Sebagaimana kaidah ibadah umum lainnya, baik di sini maksudnya diniati, dilaksanakan dan ditindaklanjuti sesuai dengan fitrah manusia: adil dan atau tidak dzalim, ihsan dan atau nasihah, simahah dan atau zakah. Tiga prinsip yang diperintahkan Allah ini hampir selalu dibacakan setiap akhir khotbah Jum’at. Di sisi lain, di dunia pesantren dikenal luas kaidah bahwa setiap ibadah tak terkecuali haji selalu membutuhkan ilmu dan amal sebelum, ketika dan sesudahnya.   Mengenai adil dan atau tidak dzalim, secara global diartikan dengan tidak merugikan/menjahati/merampas hak-hak orang lain. Hasil korupsi yang dipakai untuk biaya haji misalnya, tak mungkin menghasilkan haji mabrur. Menyakiti dengan kata-kata dan atau tindakan ketika melaksanakan ibadah haji umpamanya, me...

Antara Berjamaah dan Sendirian

  Sholat jama’ah itu lebih utama 27 derajat dibanding sholat sendiri, keutamaan sholat sunat di rumah (tidak berjamaah) dibandingkan sholat sunat di masjid sama dengan keutamaan sholat jamaah, begitu kira-kira Nabi Muhammad SAW telah bersabda. Dalam riwayat lain, sabda beliau: sholat jama’ah lebih utama 25 derajat daripada sholat sendiri. Jadi, 25 atau 27 derajat keutamaannya sesuai dengan kesungguh-sungguhannya, dan hanya Allah sajalah yang berhak menentukan.   Sebagaimana dicontohkan Nabi SAW dan dijelaskan para ulama dalam berbagai kitab (lebih-lebih kitab kuning), keutamaan sholat berjamaah itu berlaku untuk sholat wajib (sholat fardlu 5 waktu), ketika tidak sedang bepergian jauh. Bila sedang jadi musafir (bepergian jauh) sebagian ulama mengatakan, sholat wajib tidak harus berjamaah. Sepanjang hidup, Nabi SAW selalu berjamaah ketika sholat wajib. Adapun dalam sholat sunat, secara umum justru derajat (pahalanya) lebih tinggi kalau dilakukan sendiri (tanpa berjama’ah). Belia...

Cinta Allah dan Rasulnya

  Mencintai Allah dan Rasulullah Muhammad SAW, dalam kitab Futuhul Madaniyyah karya Syeikh Nawawi Al Bantani ditempatkan pada urutan ketujuh diantara cabang-cabang keimanan yang dalam kitab atau buku tersebut disebutkan tujuhpuluh tujuh cabang. Selanjutnya, Syeikh Nawawi mengutip hadits yang diriwiyatkan dua guru -Imam Buchori dan Muslim- bahwa Rasulullah telah bersabda yang kurang-lebih artinya; “Tiga perkara, siapa saja yang dirinya mengandung tiga perkara, dia akan menemukan manisnya iman” mencintai Allah dan Rasulullah melebihi kecintaannya kepadaselain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena dan dalam koridor(perintah) Allah, benci kalau sampai kembali ke dalam kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana dia benci kalau sampai dicemplungkan ke dalam neraka. Mencintai Allah dan Rasulullah melebihi kecintaan kepada apa saja, merupakan salah satu syarat menuju “iman sempurna”. Mencintai berarti menomorsatukan. Segenap perintah dari Sang Kekasih s...